Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa dirinya kerap menerima kritik yang menilai tidak ada hasil kerja selama menjabat sebagai Bendahara Negara. Purbaya menilai kritik tersebut mengabaikan kondisi krisis yang sempat terjadi akibat gejolak sosial dan ekonomi pada Agustus hingga September 2025.
Purbaya menyampaikan hal tersebut saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
“Di luar banyak yang bilang Menteri Keuangan kerjanya apa, tidak ada apa-apa sampai sekarang. Mereka lupa, waktu itu kita benar-benar jatuh, demo terjadi di mana-mana di seluruh Indonesia,” ujar Menkeu Purbaya.
Ia menggambarkan situasi saat itu sebagai kondisi yang sangat genting. Menurutnya, kemarahan masyarakat akibat tekanan ekonomi bahkan berujung pada penyerangan terhadap rumah Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati.
“Bahkan Menteri Keuangan kami yang sebelumnya sampai rumahnya diserbu. Jadi keadaannya amat genting. Ketika situasi sudah berbalik, mereka bilang ini keadaan normal,” tuturnya.
Purbaya menilai, tanpa langkah perbaikan kebijakan ekonomi yang cepat dan terukur, Indonesia berpotensi kembali mengalami krisis seperti tahun 1998. Ia menegaskan kondisi ekonomi saat ini merupakan hasil kerja sama pemerintah, DPR, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kalau tidak kita cegah, kita bisa kembali ke 1998. Itu riil karena kebijakannya salah atau ada kesalahan komunikasi,” katanya.
Ia menambahkan, upaya stabilisasi ekonomi menjadi kunci agar tekanan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih dalam. Menurutnya, jika pemerintah tidak melakukan perbaikan, kondisi ekonomi nasional bisa memburuk.
“Kalau tidak kita perbaiki, kita bisa mengalami tekanan ekonomi yang lebih parah dan mungkin sekarang kita sudah berada dalam kondisi krisis. Dalam kondisi krisis, cara berpikir semua pihak sudah berbeda dan penuh ketegangan,” pungkas Purbaya.
